Berbagai cara dilakukan
masyarakat Toraja untuk menghormati leluhurnya. Di Kabupaten Toraja Utara,
Sulawesi Selatan, setiap 3 tahun sekali masyarakat yang bermukim di sekitar
pegunungan Sesean, menggelar prosesi adat mengganti pakaian jasad leluhurnya
yang disemayamkan di dalam peti tempat pekuburan Patane. Prosesi adat ini
disebut Ma'nene.Ritual Ma'nene atau mengganti pakaian mayat sebutan masyarakat
Toraja, diawali dengan berkunjung ke lokasi pekuburan leluhur mereka yang dinamakan
Patane di Desa atau Lembang Paton, Kecamatan Sariale, yang jaraknya berkisar 28
kilometer dari Rantepao, ibu kota Kabupaten Toraja Utara. Di Patane, mayat
moyang (leluhur) mereka yang telah berumur ratusan tahun tersimpan dalam
keadaan utuh, karena sebelumnya diberi bahan pengawet.Tepatnya pada Jumat
(24/8/2012) Prosesi Ma'nene dilakukan pihak keluarga dengan membersihkan
mayat leluhur yang telah berusia ratusan tahun, dengan melepas pakaian lama
yang digunakan. Lalu seluruh badan mayat dibersihkan dengan menggunakan kuwas.
Setelah itu, jenazah tersebut kemudian dipakaikan dengan pakaian baru. Bagi
mayat pria memakai jas lengkap dengan stelan dasi hingga kaca mata
Sebelum membuka pintu
kuburan Patane dan mengangkat peti mayat untuk di bersihkan, tetua adat dengan
sebutan Ne' Tomina Lumba, terlebih dahulu membacakan doa dalam Bahasa Toraja
kuno, memohon izin kepada leluhur agar masyarakat mendapat rahmat keberkahan
setiap musim tanam hingga panen berlimpah
Ne'tomina merupakan gelar adat yang
diberikan kepada tetua kampung, dimana artinya adalah orang yang dituakan juga
imam atau pendeta. Pieter Rayub, tokoh masyarakat Lembang Poton yang juga
keluarga pelaksana ritual Ma'nene menuturkan, prosesi adat Ma' nene sudah
berlangsung sejak zaman dahulu. Waktu pelaksanaannya berdasarkan kesepakatan
bersama keluaarga dan tetua adat melalui musyawarah desa
Ritual ini disepakati digelar 3
tahun sekali. Tujuannya agar keluarga yang berada di perantauan bisa datang
menjenguk orang tua atau Nene To'dolo (moyang mereka), juga untuk mempererat
hubungan tali silaturahmi orang perantauan dengan orang tua yang masih hidup
atau yang sudah meninggal agar lebih mengingat kampung halamannya. "Prosesi
adat Ma'nene kami gelar dalam 3 tahun sekali berdasarkan hasil kesepakatan
musyawarah
Lembang. Selain itu, kegiatan ini
bertujuan mempererat tali silaturahmi keluarga yang berada jauh di
perantauan," ungkap Piter Rayub.
Menurutnya, Ma'nene digelar sebelum musim tanam dimulai
atau sesudah memotong padi, yang hasil panennya digunakan dalam prosesi
tersebut. Prosesi mengganti pakaian satu mayat tidaklah lama, hanya membutuhkan
waktu sekitar 30 menit. Usai mengganti pakaian mayat leluhur, masyarakat
kampung di Lembang Poton kemudian berkumpul mengikuti
acara makan bersama. Makanan yang disajikan adalah hasil sumbangan
setiap keluarga keturunan leluhur yang melaksanakan kegiatan prosesi adat
Ma'nene. Usai makan bersama, acara dilanjut dengan tradisi Sisemmba',
bertujuan menjalin keakraban serta silaturahmi antara keluarga perantau dengan
yang berada di kampung halaman.
-Set Frides-



Tidak ada komentar:
Posting Komentar